MEDIA CENTER HORIZONTAL
Friday, 4 April 2025

Ramadan di Kampung Sogi

Media NU Sidoraharjo | Langit senja di Kampung Sogi mulai berubah jingga, menandakan waktu berbuka puasa semakin dekat. Dari kejauhan, sayup-sayup suara tarhim dari masjid kampung terdengar bercampur dengan hiruk-pikuk pasar yang ramai oleh orang-orang berburu hidangan berbuka. Aroma gorengan, kolak pisang, dan ayam bakar tercium samar terbawa angin.

Namun, di rumah Rasti, suasananya jauh berbeda. Hanya ada suara langkah tergesa-gesa disertai nafas berat yang berpindah dari satu sudut ke sudut lain. Di dalam rumah yang berdinding papan kayu yang mulai lapuk itu, ia membongkar setiap tempat. Isi lemari kayu di pojok kamar sudah berserakan keluar, tapi yang ia temukan hanyalah beberapa lembar kertas kusam yang menguning,bukti-bukti pinjaman yang justru semakin membuat dadanya sesak. Tangannya gemetar saat menutup lemari, lalu beralih ke laci kecil di meja televisi. Namun, lagi-lagi kosong. Nihil.

Peluh mengalir di pelipisnya, meskipun sore itu udara mulai sejuk. Perutnya perih, bukan hanya karena puasa, tetapi juga karena rasa cemas yang menggerogoti pikirannya. Ia menelan ludah, menatap dapurnya yang sepi. Tak ada panci yang mengepul, tak ada wangi makanan seperti di rumah-rumah tetangga. Di atas meja hanya ada gelas kosong dan sebungkus teh celup yang sudah berkali-kali ia pakai ulang.

“Nggak ada apa-apa lagi, Ham…” keluhnya sambil duduk lemas di lantai tanah.

| Baca Juga: |

Safari Ramadan MWCNU | Kolaborasi Bersama Muspika,DMI dan MUI Kecamatan Kedamean Gresik

Hamsat, suaminya, baru saja pulang dari sawah, bukan sawah miliknya, tapi sawah orang lain tempat ia jadi kuli panggul panen. Ia mengusap keringat di wajahnya, menatap istrinya dengan mata yang sarat kelelahan.

“Kita harus cari cara lain, Ras, untuk melunasi hutang-hutang itu” katanya pelan.

Setahun lalu, mereka masih punya sawah. Memang tidak luas, tapi cukup untuk bertahan hidup. Sampai akhirnya, pengembang perumahan datang dengan tawaran harga yang sulit ditolak—jauh lebih tinggi dari hasil panen bertahun-tahun. Beberapa warga yang awalnya ragu akhirnya luluh juga, termasuk Hamzat dan Rasti, tergiur oleh angka yang mereka anggap sebagai rezeki nomplok. Dalam waktu singkat, tanah yang dulu ditanami padi berubah menjadi tiang-tiang beton. Jalanan desa yang biasa dilewati petani kini dipadati truk pengangkut material, dan suara burung di pagi hari mulai kalah oleh bisingnya mesin konstruksi.

“Ras, kalau kita jual ini, kita bisa buka usaha,” ujar Hamsat waktu itu, penuh keyakinan.

Rasti mengangguk. Dalam benaknya, mereka bisa membuka kios, mengisi etalase dengan barang dagangan, dan hidup lebih layak. Tapi sekarang? Pembeli sepi, harga barang naik, dan sedikit demi sedikit modal tergerus. Akhirnya, stok barang menipis, kios lebih sering tutup daripada buka, dan usaha yang dulu penuh harapan kini hanya tinggal papan nama yang nyaris pudar,dipertahankan sekadar untuk meyakinkan bank agar bisa dapat pinjaman.

Hutang dari bank harian semakin menumpuk. Setiap hari, wajah-wajah baru datang mengetuk pintu, tapi maksud mereka selalu sama—menagih hutang. Senin pria berbadan besar, Selasa perempuan berhak tinggi, Rabu pria berkacamata dengan nada tajam, lalu Kamis dan Jumat datang dengan ancaman lebih serius. Suara ketukan pintu semakin keras tiap harinya dan nada bicara semakin mendesak. Rumahnya tak lagi terasa seperti tempat tinggal, melainkan seperti loket pembayaran yang tak pernah punya cukup uang.

“Tapi, Pak, saya udah nggak punya apa-apa lagi…” dan kalimat ini seakan menjadi dzikir harian.

Mereka hanya punya motor knalpot brong yang biasa dipakai Hamsat, itu pun tanpa surat. Mau dijual? Siapa yang mau beli kendaraan yang polisi saja enggan untuk menyita?

Hamsat duduk di depan rumah, menatap tanah kosong di seberang jalan. Dahulu, di sanalah sawah mereka membentang. Kini, hanya ada papan proyek perumahan yang bertuliskan:

“Segera Hadir: Cluster Sogi Asri, Hunian Nyaman untuk Keluarga Bahagia.”

Ironis. Ia menjual sawahnya dengan harapan kehidupan lebih baik, tapi kini malah jadi kuli di proyek yang berdiri di atas tanahnya sendiri.

Rasti keluar, membawa dua gelas teh hangat “Buka puasa dulu.” serunya pelan.

Siang itu, setelah sekian lama, Hamsat kembali duduk di shaf belakang masjid, mendengarkan khutbah Jumat. Ia tidak terlalu sering datang, tapi entah kenapa, hari ini langkahnya terasa ringan.

Khatib berbicara tentang rezeki—bukan sekadar uang, tapi keberkahan yang sering luput dicari. Lalu, ia mengisahkan Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Nabi ﷺ yang datang ke Madinah dalam keadaan miskin setelah hijrah dari Makkah.

“Ketika Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Muhajirin dan Ansor, Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang saudagar kaya di Madinah,” ujar khatib. “Sa’ad, dengan kemurahan hatinya, menawarkan separuh hartanya dan bahkan salah satu istrinya jika Abdurrahman menginginkannya. Tapi apa yang dikatakan Abdurrahman?”

Khatib terdiam sejenak, lalu melanjutkan, ‘Tunjukkan aku jalan ke pasar.’

“Tanpa modal besar, Abdurrahman mulai berdagang. Ia tidak menipu, tidak mengambil keuntungan berlebih, dan tidak menimbun barang. Kejujurannya membuat orang percaya, dan dalam waktu singkat, ia sukses. Tapi kesuksesan itu tidak membuatnya lupa. Ia menyumbangkan hartanya untuk Islam—ribuan dinar, ratusan unta, bahkan seluruh kafilah dagangnya demi membantu umat. Ketika ditanya kenapa ia menyedekahkan semuanya, ia hanya menjawab, ‘Aku berharap mendapatkan keuntungan yang lebih besar di sisi Allah.’”

| Baca Juga: |

Ranting NU Sidoraharjo Raih Penghargaan di PCNU Gresik Award,Kategori Ranting Inovasi

Hamsat terdiam sepanjang perjalanan pulang. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.

Setibanya di rumah, ia melihat Rasti masih duduk di depan etalase kosongnya. Sisa barang dagangan hanya tinggal beberapa bungkus mi instan dan beberapa botol air mineral.

“Aku bakal cari kerja tambahan, Ras,” ucapnya tiba-tiba. “Apa aja yang penting halal.”

Rasti menatapnya lama. “Kerja apa?”

Hamsat menggeleng. Ia belum tahu. Tapi Abdurrahman bin Auf juga memulai dengan tangan kosong. Yang ia tahu, ia akan bangun pagi dan pergi kemanapun yang bisa memberinya jalan.

Ramadhan ini terasa berat, tapi mungkin ada pintu rezeki yang selama ini luput ia lihat.

Penulis : Putri Dwi Yanti
Editor: Ali

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan
Alamat email Anda tidak akan ditampilkan